“Ya
ini namanya jodoh”. Kata Paula
bersemangat. “Ah, engga La. Banyak, kali cerita kayak begitu”. Kataku membantah. “Chel, 15 tahun loh! 15 tahun.. dan Elu
masih belum bisa move on”, kata Diana menimpali. Aku terdiam sambil
menghabiskan beberapa suapan lagi Spaghetti Aglio Olio di hadapanku. Sebentar lagi jam istirahat
kantor berahir.
Di
perjalanan pulang aku masih memikirkan perkataan kedua sahabatku tadi. Sambil tangan
kiri ku menenteng tas dan tangan kananku menggenggam erat pegangan KRL. Berbeda
dengan orang-orang yang kedua tangannya sedang sibuk dengan gadget. Pikiranku sedang dipenuhi ‘dia’
yang seharian ini menjadi pembahasan kami di kantor. Bukan hanya hari ini, tapi
sudah beberapa hari terakhir sejak dia menjadi karyawan baru di kantorku.
Aku
Rachel. Wanita kantoran usia 23 tahun yang sekalipun belum pernah berpacaran. Tertarik
dengan seseorang? Wah, sering banget. Tapi ujung-ujungnya rasa suka ku
menghilang lantaran aku masih selalu membanding-bandingkan orang yang ku suka
dengan si ‘dia’. Sejak duduk di bangku SMP hingga kuliah! ‘Dia’cinta
pertamaku yang bahkan tak pernah tahu kalau dicintai oleh ku. Miris. Tinggal nya
tak jauh dari tempat tinggal ku dulu bersama kedua orangtuaku. Dia setahun
lebih tua dariku. Aku yang tak memiliki abang awalnya merasa senang ada dia
yang selalu menjaga dan membelaku ketika bermain. Kala kecil dulu, aku paling
senang bermain dengan anak-anak cowok. Tapi sering kali aku diperlakukan tak
adil karena paling lemah di antara mereka. Nah, si ‘dia’
inilah yang selalu membantu, membela, bahkan menjaga aku tiap bermain dulu. Beranjak
remaja, rasa kagumku terhadap dia berubah menjadi suka.
Awalnya
ku rasa hanya cinta monyet sesaat. Tapi, tak terasa aku memasuki bangku SMA,
banyang-bayang dia tetap membuntuti aku dan dia menjadi tipe cowok-ku banget. Sering kali aku bercerita
tentang ini ke teman-teman terdekatku. Tapi tak sekalipun aku sanggup
mengungkap siapa di ‘dia’ ini. Aku malu. Nanti orang-orang
berpikiran, “Masa jatuh cinta
sama temen main?” Pikirku. Siapapun
itu, dimanapun dia, jawabannya terhadap curhatanku selalu sama. “Deketin, dong! Perjuangin!”.
Aku
turun berdesak-desakan dari KRL, dan berdiri di gerbang stasiun Sudirman. Ku lambaikan
tanganku pada abang-abang ojek yang sedang nangkring di sebelah kanan gerbang. Aku
naik dan ku rekatkan pengait helm di dagu ku. Kemacetan Jakarta dan polusi nya
yang luar biasa tak mengusik lamunanku. “Masa,
iya, aku yang deketin?”,
batinku dalam hati. “Cewek ya
harus jual mahal lah. Apalagi cewek Batak. Mahal banget”, batinku lagi. “Tapi kalau aku ga bergerak, gimana dia bisa
tau?” tanyaku lagi. “Ya kalau dia ga deketin berarti dia ga suka
sama aku. Berarti ga jodoh. Yauda, habis perkara”. Jawab ku lagi. “Loh,
emang aku rela?”, kata hatiku
lagi semakin galau.
Ku
serahkan uang sepuluhribuan ke abang ojek, dan ku buka gerbang di hadapanku. Tak
lupa ku sapa juga bapak satpam yang selalu sigap menyapa duluan. Dengan malas aku menekan lift ke lantai 3. Sampai
di kamar, langsung ku rebahkan tubuhku yang lelah ini ke tempat tidur, sambil
membayangkan ‘dia’ yang tadi lewat di hadapanku tanpa menyapa
aku. “Masa dia lupa sama aku?”, batinku. Aku kesal, kesal se
kesal-kesal-nya.
Bersambung…
Penasaran lanjutannyaaaa :(
BalasHapusMasak sih dia lupa, masak sih... aku juga jadi kepengin tahu sebabnya...
BalasHapus