Langsung ke konten utama

Jerald si Usil

Sinar mentari merembes masuk kamarku lewat jendela kecil di sisi tempat tidur. Siang itu sungguh terasa panas dan gerah. Ne…” ku dengar sayup-sayup suara Mami memanggilku dari belakang. Aku Agnes. Tapi keluargaku kerap memanggilku Ane. Cara ku menyebut namaku di kala aku masih kecil yang higga sekarang menjadi panggilanku di rumah bahkan di sekolah. Kamarnya diberesin, Dek. Lanjut Mami. Sambil bermalas-malasan ku kumpulkan segenap tenaga untuk bangkit dari tempat tidur dan kembali menyusun barang.

Papi ku seorang konsultan di kantornya. Beberapa tahun sekali Papi dimutasi ke cabang kantornya yang ada di beberapa kota di Indonesia. Tahun ini giliran Papi dipindahtugaskan ke luar kota, dan hal ini mengharuskan kami turut pidah rumah. Hal yang paling tak ku suka dari pindah rumah adalah membongkar  dan menyusun semua barang-barang. Karena sangat melelahkan dan menyita banyak waktuku.

Selesai menyusun pakaian, aku meyusun rak buku. Sembari menyusun buku-buku, aku serasa bernostalgia karena mendapati buku-buku ku di SMP dulu. Iseng-iseng aku membuka-buka dan membaca buku-buku ku. Aku tersenyum kecil melihat tulisanku yang begitu jelek dan berantakan di kala SMP dulu. Beberapa saat aku membuka buku-buku ku, aku terdiam sejenak mengamati sebuah tanda tangan yang tertera di lembar pertama buku Bahasa Inggrisku. Tanda tangan itu berukuran sangat besar memenuhi lembaran  itu. Di bawahnya tertera nama Jerald, nama seorang teman SMP ku dulu. Sejenak aku teringat masa SMP ku.

Geser, dong! Gua mau lewat teriakku pada Jerald yang sengaja menutupi pintu dengan tangannya, menghadang aku dan Fany masuk ke kelas. Password dulu. Jawabnya dengan nada yang sangat membuatku kesal. Apa?! tantangku. Jerald ganteng. Katanya tanpa merasa berdosa, dan dengan tegas aku menolak. Fany yang sedari tadi juga kesal karena es krim yang baru dibelinya dari kantin mulai meleleh ke tangannya mendorong Jerald dan memaksa masuk. Ketika aku juga mendorong masuk, Jerald memperkuat tangannya dan menahan ku di luar hingga bel masuk berbunyi. Jerald hampir setiap hari menahanku di luar tiap kali aku ke luar kelas. Aku tak tahu mengapa.

Aku suka membaca komik dan sering kali membawa komik ke sekolah. Pinjam! seru Jerald sembari merampas komik Miiko edisi 28 ku yang baru ku beli dan masih ku baca setegah. Aku sangat kesal dan marah. Sini! Gua lagi baca, Jer, Kataku. Ambil kalo bisa. Jawabnya sambil melegos pergi ke balkon kelas kami.

Pelajaran matematika bukalah pelajara favoritku di SMP. Aku lemah matematika. Guru ku menerangkan terlalu cepat dengan dialeg Hokkiennya yang masih sangat kental semakin mempersulitku mengerti bahasa matematika yang memang sulit ku cerna. Satu jam sebelum  pelajaran berakhir, guru ku berkata, Saya kasi waktu 15 menit untuk belajar, habis tu ujian. Yang nilainya bagus punya bole dapat hadiah minggu depan ya. Aku dan Fany sebangku ku yang sedari tadi mengobrol selama guru ku menerangkan tercegang dan saling pandang. Jerald datang dan duduk di depan meja kami. Sambil membuka buku matematika bilingual kami yang begitu tebal dan besar, bak seorang professor Jerald berkata, Mana yang tidak dimengerti murid-muridku? Perkenankanlah guru besar mu yang baru lulus dari Harvard ini mengajari kalian dengan segala kerendahan hati.

Jerald ketua kelas kami. Sangat badung tapi entah mengapa bisa menguasai segala mata pelajaran. Gua ga ngerti semua Tom. Ajari cara cepat aja biar 15 menit cukup untuk belajar. Jawabku sekenanya. Ooh, mau cara cepat? Dasar kau anak muda mau yang praktis selalu. Jawab Jerald dengan lagaknya dan mulai mengajari aku dan Fany.

Senin pagi, kami ada pelajaran olah raga dan harus berganti pakaian olah raga. Sekembali dari kamar mandi, seperti biasa Jerald menahanku di pintu masuk. Jerald benar-benar seorang cowok yang sangat usil. Rasanya dia ga bisa melewatkan sehari saja tanpa mendengar ku berteriak. Jer, cepet dong. Gua mau masuk. Mau nyusun baju lagi. Ntar dimarahin Pak Adam kelamaan ke lapangan, seruku. Emang urusan gua, kalo lu dimarahin?. Jawabnya. Jahat banget lu!, seruku. Buset dah, Jer. Elu ga boleh gitu sama cewek. Kasihan banget si Ane. Kata Agung menimpali. Ne, kemarin pulang les Jerald bilang elu cewek paling cantik di sekola ini. Dia suka sama elu, kata Grace tiba-tiba. Lah, lu ngomong apa, Grace? Gila lu ya? Kata Thomas sambil melepaskan tangannya yang tadi meghalangiku masuk dan pergi.

Hari berikutnya, beda dari biasanya Jerald tidak lagi menggangguku, tidak menahanku di pintu kelas, bahkan terkadang tidak menyapa ku ketika berpapasan di koridor sekolah. Jerald tak lagi mengajari ku matematika. Hingga hampir penghujung kelas VIII SMP Jerald tak lagi akrab dengan ku. Sebelum naik ke kelas IX, kami berencana membuat kaos kelas karena di kelas IX kelas kami akan diacak lagi. Aku menawarkan diri untuk mendesain kaos tersebut, tanpa aku tahu Jerald telah dulu menawarkan diri, dan akhirnya taggung jawab mendesain kaos diserahkan kepada kami berdua. Selama proses mendesain, aku dan Jerald berbicara seadanya dan terasa begitu canggung. Aku memberi tahu Jerald orang tua ku dipindah tugaskan dari Jakarta ke Medan. Jerald hanya mengangguk seolah tak perduli. Hingga aku pindah sekolah pun, Jerald dan aku tetap tidak sedekat dulu lagi.

Selulusnya dari SMP, aku mendengar Jerald melanjutkan ke SMA terbaik di Jakarta, dan masuk kelas akselerasi yang memungkinkan dirinya lulus SMA dalam waktu 2 tahun saja. Beberapa bulan yang lalu secara tidak segaja aku bertemu dengan Jerald di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Jerald dan beberapa teman SMP ku dulu. Akhirnya aku, Jerald, dan teman-teman SMP ku menyempatkan diri makan siang bersama. Jerald kembali usil seperti dulu, dengan membuka dan mengeluarkan seluruh isi dompetku. Beberapa saat berbincang, teman-teman memberi tahu ku bahwa Jerald diterima di Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia melalui jalur undagan dan sudah mulai kuliah di tahun ini. Jerald yang begitu usil ternyata bisa sukses dan mendahului aku dan teman-teman sekelasku di SMP. Kesuksesan Jerald ini turut memacu ku untuk lebih giat belajar dan menyusul Jerald sukses di peguruan tinggi yang bagus.

Aneee, udah selesai? Bantu Mami beresin kain di belakang dek. Seru Mami dan mebuyarkan lamunanku. Iya bentar Mam. Dikit lagi. Jawabku. Aku pasti bisa dan harus bisa sukses di tahun depan ke perguruan tinggi impianku, lulus kuliah secepatnya dengan nilai memuaskan dan kali ini mengalahkan Jerald. Gumamku daalam hati.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Tuhan Bukan Dia

Semilir angin sejuk sepoi-sepoi meniup gorden jendela kamarku yang tepat di samping tempat tidurku. Kicauan burung menyapa seolah memerintahkanku untuk segera bergegas menyentuh sarapan rohaniku. Segera setelah berhasil mengumpulkan nyawa kuhampiri meja di sudut kamarku. Ku buka buku tipis itu, dan kudapati renungan hari Minggu, tanggal 29 Oktober, berjudul “ Jangan Khawatir ” dan Filipi 4:6 menjadi ayat pagi ini. “ Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur ” . Wah, salah satu ayat favoritku. Ayat ini menjadi peganganku sekitar dua tahun belakangan ini. Begitu banyaknya rasa kuatirku yang mampu ku tentang berkat ayat ini. Ku tuntaskan saat teduh ku dan segera mandi. “ Aby..... ” teriak mama dari bawah. Aku Aby. Sebenarnya Abigail. Tapi aku kerap disapa seperti itu. “ Sarapan nya udah selesai ” . Sambung mama. Segera ku selesaikan sedikit polesan make up di wajahku...

Postingan Pertama!

Haiii! Setelah sekian lama akhirnya aku memutuskan untuk mulai memperhatikan blog ku ini ‘ lagi ’ . Setelah sekian lama blog ku nganggur ga pernah ke-isi. T.T Jadi hari ini, tepat di akhir bulan Maret 2017 ini, di tanggal 31, niat baikku untuk nulis blog muncul. Untung tepat sehari sebelum April Mob ya hehe. Laaaaaama sekali aku nentuin apa konten blog ku, nentuin nama yang cocok, background yang unyu, googling2 cara dapetin kode html untuk ganti background, dan ini tattering dari hp looh. Wifi mati -_- Sekedar curcol hehe. Okey, back to the topic, jadi intinya ini blog milikku yang isinya cerpen karangan sendiri. Semoga aku konsisten nulis cerita di sini yaaa.. hehe See you on my next postingan … .. Xoxo, marshmallow-pink o