Langsung ke konten utama

Kata Tuhan Bukan Dia

Semilir angin sejuk sepoi-sepoi meniup gorden jendela kamarku yang tepat di samping tempat tidurku. Kicauan burung menyapa seolah memerintahkanku untuk segera bergegas menyentuh sarapan rohaniku. Segera setelah berhasil mengumpulkan nyawa kuhampiri meja di sudut kamarku. Ku buka buku tipis itu, dan kudapati renungan hari Minggu, tanggal 29 Oktober, berjudul Jangan Khawatir dan Filipi 4:6 menjadi ayat pagi ini. Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Wah, salah satu ayat favoritku. Ayat ini menjadi peganganku sekitar dua tahun belakangan ini. Begitu banyaknya rasa kuatirku yang mampu ku tentang berkat ayat ini. Ku tuntaskan saat teduh ku dan segera mandi.
Aby..... teriak mama dari bawah. Aku Aby. Sebenarnya Abigail. Tapi aku kerap disapa seperti itu. Sarapan nya udah selesai. Sambung mama. Segera ku selesaikan sedikit polesan make up di wajahku dan bergegas ke ruang makan. Ada papa, mama, adikku Lea menunggu ku berdoa bersama sebelum makan, seperti kebiasaan tiap keluarga kristen pada umumnya. Selesai menyantap sarapan aku berpamitan pada papa, mama dan Lea untuk beribadah pagi.
Di depan jendela, tanpa sengaja aku melihat sebuah motor tua butut yang telah dimodifikasi ala anak muda zaman sekarang parkir di halaman rumah tetanggga ku, Bella. Aku tahu persis siapa pemilik motor itu. Cowok populer di sekolah ku, Gerry. Yang seketika membawa ingatanku ke dua tahun yang lalu.
Aku baru lulus SMP, dan melanjut ke salah satu SMA Swasta Kristen favorit di kota ku. Minggu pertama berjalan dengan sangat baik. Aku bergabung ke kelompok cheerleaders dan mendapati teman-teman kelompok yang baik dan ramah. Beberapa bulan berlatih, kami dihadapkan pada turnamen basket antar sekolah pertama di semester itu, dan saat itu menjadi penampilan pertamaku tampil menggunakan baju kebanggaan klub cheerleaders sekolah kami menjadi pemberi semangat bagi anak-anak basket sekolahku. Aku sangat bersemangat dan tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang cowok yang tengah berjuang ngedribble bola untuk mencetak poin. Aura nya terasa begitu terpancar, dan ooh God! Hes so cuute... dan saat itu benar-benar seperti cerita di novel-novel TeenLit. Ternyata saat-saat seperti itu bisa terjadi secara nyata, ga imajinasi pengarang belaka. Im fallin in love at first sight! Aku langsung cerita ke teman-teman terdekatku dan mereka semua dukung aku dan doi. Dari Dion, sikapten basket aku tahu kalo nama cowok basket itu adalah Gerry.
Begitu besar harapanku untuk berkenalan, dekat, dan jadian sama Gerry! Dan seperti harapanku, semua begitu mulus. Dengan mudahnya Gerry menangkap sinyal ku dan kami mulai dekat. Aku benar-benar suka, senang, dan nyaman sama semua sikap nya. Dia dewasa, pengertian, tapi dia tidak begitu pintar dalam pelajaran. Tapi tak apa lah, kelebihannya menutupi kekurangannya, pikirku pada saat itu. Satu bulan aku jalan sama Gerry, dia mulai menyebalkan. Aku baru tahu kalau dia malas ke gereja, malas berdoa sebelum bangun tidur, makan, belajar, dia malas berdoa kapan pun dan di manapun, dia sering bertengkar dengan orang tua nya, dia suka melawan guru, dan paling parahnya lagi, dia seorang perokok dan kasar pada perempuan. Aku begitu hancur saat mengetahui nya. Gerry itu cinta pertamaku, tapi ternyata dia begitu jahat dan busuk, bahkan sebelum kami resmi berpacaran.
Aku menagis dan begitu marah pada Tuhan. Kenapa cinta pertamaku harus orang bodoh seperti itu? Jahat dan sangat jauh dari tampilan awalnya. Tuhan tahu dia jahat, tapi kenapa tetap memperbolehkan ku dekat dengannya. Seharusnya kalau Tuhan sayang padaku, Dia menjauhkan ku sejak awal dari si Gerry. Tapi kenapa tidak. Aku marah dan merasa pantas mendongkol pada Tuhan dengan tidak mau bersaat teduh lagi. Satu bulan buku saat teduh ku kuanggurkan dan tak pernah ku sentuh lagi.
Aku mulai menjauhi Gerry karena merasa dia begitu jahat dan tidak layak dijadikan idola. Tanpa ku sadari, aku semakin dekat dengan Dion, yang ku kenal sejak aku ingin dekat dengan Gerry. Dion sering muncul di kegiatan extrakurikuler yang ku ikuti. Dan yang paling berkesan, selain kapten tim basket, Dion juga ketua persekutuan kristen di sekolah ku. Aku yang tidak pernah ikut persekutuan didatangi oleh Dion dengan maksud mengajakku untuk bergabung, dan dari situ aku semakin dekat dengan Dion.
Di ibadah persekutuan pertama ku, ayat renungan nya sangatlah ku ingat yang akhirnya menjadi pegangan hidupku. Yohanes 13:7, Jawab Yesus kepadanya: Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak. Saat itu aku merenungkannya begitu lama, dan menyambungkannya dengan masalahku belakangan, dan menemukan titik temunya. Tuhan membiarkan kujatuh cinta pada Gerry yang jahat bukan karena Tuhan tidak sayang padaku. Dan ya, pada saat aku mengetahui kejelekan Gerry aku tidak tahu apa maksud Tuhan membiarkan aku suka Gerry. Tapi sekarang aku tahu. Tuhan mempertemukan Dion denganku melalui si Gerry.
Aby...? panggil Dion, yang sontak membuyarkan lamunanku. Dia sudah menungguku dari tadi di depan pintu. Ah, iya, ayo kita berangkat. Jawabku. Dion menggandeng tanganku dan membukakan pintu mobil untukku dan  siap berangkat ke gereja bersama.
Dan dari situ aku semakin sadar, Tuhan punya maksud sendiri di balik tiap kekecewaanku. Tuhan sangat baik padaku. Tidak pernah membiarkan aku jatuh ke titik terendah hidupku. Tepat seperti kata Mazmur 37:24, Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.


Komentar

  1. suka buat Cerpen ya mba,
    pada awalnya, Tuhan akan pertemukan kita dgn org yg salah sebelum hingga akhirnya dia pertemukan dgn org yang tepat,
    aku suka cerpennya.. cerpen cristiani ya ini?
    ada nama favorit aku,,
    ABIGAIL..
    :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Postingan Pertama!

Haiii! Setelah sekian lama akhirnya aku memutuskan untuk mulai memperhatikan blog ku ini ‘ lagi ’ . Setelah sekian lama blog ku nganggur ga pernah ke-isi. T.T Jadi hari ini, tepat di akhir bulan Maret 2017 ini, di tanggal 31, niat baikku untuk nulis blog muncul. Untung tepat sehari sebelum April Mob ya hehe. Laaaaaama sekali aku nentuin apa konten blog ku, nentuin nama yang cocok, background yang unyu, googling2 cara dapetin kode html untuk ganti background, dan ini tattering dari hp looh. Wifi mati -_- Sekedar curcol hehe. Okey, back to the topic, jadi intinya ini blog milikku yang isinya cerpen karangan sendiri. Semoga aku konsisten nulis cerita di sini yaaa.. hehe See you on my next postingan … .. Xoxo, marshmallow-pink o

Jerald si Usil

Sinar mentari merembes masuk kamarku lewat jendela kecil di sisi tempat tidur. Siang itu sungguh terasa panas dan gerah. “ Ne …” ku dengar sayup-sayup suara M ami memanggilku dari belakang. Aku Agnes. Tapi keluargaku kerap memanggilku Ane. Cara ku menyebut namaku di kala aku masih kecil yang higga sekarang menjadi panggilanku di rumah bahkan di sekolah. “ Kamarnya diberesin, Dek ” . Lanjut Mami. Sambil bermalas-malasan ku kumpulkan segenap tenaga untuk bangkit dari tempat tidur dan kembali menyusun barang. Papi ku seorang konsultan di kantornya . Beberapa tahun sekali Papi dimutasi ke cabang kantornya yang ada di beberapa kota di Indonesia . Tahun ini giliran P api dipindahtugaskan ke luar kota, dan hal ini mengharuskan kami turut pidah rumah. Hal yang paling tak ku suka dari pindah rumah adalah membongkar  dan menyusun semua barang-barang. Karena sangat melelahkan dan menyita banyak waktuku. Selesai menyusun pakaian, aku meyusun rak buku. Sembari menyusun buku-buku, ak...